Oleh : Muh. Afdal Yanuar
(B11113038)
Religius ? Apa religius itu ?
Pentingkah mahasiswa menjadi religius ? Bagaimana seorang mahasiswa menjadi
manusia yang religius ? Kenapa harus religius ?
Itulah
pertanyaan-pertanyaan yang akan terus muncul ketika mahasiswa-mahasiswa
dihadapkan pada hal religius.
Sebagaimana
yang telah diketahui bahwa mahasiswa memiliki peran sebagai agent of change dan agent of social control yang akan terus melekat pada dirinya selama
masih berstatus mahasiswa demi menciptakan sebuah sinergi yang baik dan kuat
antara Strata Borjuis (Pemerintah
dan kalangan birokrat) dengan Proletar
(Kalangan menengah ke bawah). Mahasiswa yang baik itu adalah ia yang berjiwa
RAKUS (Rasional, Analitik, Kritis, Universal, dan Sistematis). Lantas bagaimana kaitannya dengan Religius ? Ketika
mahasiswa mampu menjadikan karakter RAKUS itu pada diri mereka untuk menanamkan
jiwa religius pada dirinya dan kemudian merebahkan virus-virus kereligiusannya
itu, maka disinilah akan melahirkan sebuah komitmen pada mahasiswa untuk
menjadi manusia yang memiliki kecerdasan yang tidak akan disalahgunakan.
Artinya apapun tindakan yang ia lakukan pasti sesuai dengan syariat agama dan
dapat bermanfaat serta diterima oleh orang banyak. Tidak asing lagi ditelinga
kita, dimana sering kita mendengar perkataan “Ilmu tanpa agama adalah buta, dan agama tanpa ilmu adalah pincang”.
Maka sebesar apapun reputasi dari seorang mahasiswa ketika mereka tidak
membarengi esensi dari ilmunya itu dengan nilai-nilai keagamaan, maka itu tidak
akan memberikan sebuah mudharat (manfaat) bagi dirinya sendiri, terlebih kepada
kalangan orang banyak utamanya dalam kehiupan dalam kampus yang penuh
dengan dinamika. Kita semua pasti mencita-citakan negara ini mampu menjadi
negara yang adil, makmur, dan sejahtera serta melihat semua generasi penerus
mampu menjadi generasi pelurus dari bangsa tercinta ini yang utamanya
pergerakan yang awalnya dilakukan oleh Mahasiswa. Cita-cita tersebut
bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan.
Sangat dibutuhkan manusia-manusia utamanya mahasiswa-mahasiswa sebagai
generasi penerus yang paling diharapkan yang senantiasa mendasari perbuatannya
dengan iman dan taqwa tanpa mengenal ruang dan waktu. Namun nyatanya, kita
hanya dapat melihat negara yang tercinta ini terus menangis dengan jeritan
tangis, akibat dari tingkah yang amis dari aktifis-aktifis yang dirasuki oleh
jiwa anarkis. Artinya, negeri
kita ini sedang mengalami sebuah kehancuran akibat dari orang-orang yang
intelek dan sering berkicau dengan menggunakan daya inteleknya itu, ternyata
berkhianat dan senantiasa menyalahgunakan ilmunya untuk menghancurkan
orang-orang yang berada dibawah stratanya. Sehingga perlu kita pertegas bahwa
dalam kehidupan ini perlu ada seorang aktifis mahasiswa yang mampu menggerakkan
segenap mahasiswa menjadi mahasiswa yang religius dan menerjunkan kepada
masyarakat akan pentingnya hidup ini dengan dibentengi oleh nilai-nlai
religius. Sehingga akan melahirkan sebuah interaksi yang besar antara
Lapisan Borjuis dengan Proletar di kampus demi
menciptakan masyarakat yang religius sebelum melakukan pergerakannya lebih luas
pada masyarakat.
Negara ini sudah memiliki sangat
banyak orang pintar, namun mengapa masih saja terpuruk ? Negara ini sudah
sangat banyak KH/ulama’/ustadz yang hebat, tapi mengapa jiwa-jiwa keislaman
dari para muslim di Indonesia mengalami kelunturan ? Lantas bagaimana kampus menciptakan orang-orang yang religius ?
Terhadap
3 pertanyaan tersebut tidak lain jawabannya adalah karena banyak orang pintar
di negara ini, namun substansi ilmunya itu tidak dibumbui dengan nilai-nilai
keagamaan. Kemudian banyak pula orang agamis di negara ini, namun banyak
masyarakat yang kesadaran tentang akhiratnya sifatnya statis dan apabila
dihadapkan kepada hal-hal yang dilarang agama, mereka kembali terjerumus kesana.
Disinilah sebenarnya dibutuhkan peran mahasiswa sebagai Agent of change dan agent of
social control. Perubahan itu dapat dilakukan ketika mahasiswa senantiasa
mampu melakukan tindakan dilapangan untuk menanamkan jiwa-jiwa kerohanian pada
masyarakat banyak. Berbicara tentang mahasiswa mengadakan bazar, sosialisasi ke
masyarakat, seminar, dan bahkan sampai demonstrasi yang berbicara tentang
kajian ilmu dunia adalah sebuah hal yang biasa. Tapi kita sangat jarang
mendengarkan adanya mahasiswa yang mampu mengadakan kegiatan-kegiatan tersebut
yang senantiasa membahas tentang kajian-kajian agama. Misalnya saja, mahasiswa
sangat sering mendemonstrasi kepada kalangan borjuis (pemerintah dan birokrat) tentang kinerja yang tidak
memuskan bagi masyarakat, tapi kenapa kita tidak pernah melihat mahasiswa
berdemonstrasi agar senantiasa para pejabat-pejabat itu diberikan pendidikan
tentang nilai-nilai agama agar mereka takut melakukan perbuatan-perbuatan yang
melanggar syariat agama ? Inilah sebuah problematika dunia ini. Kita lebih
cinta dunia daripada akhirat. Kita lebih suka menyadarkan orang lain tentang
segala hal yang membahayakan dunia, bukan menyadarkan mereka tentang hal-hal
yang mengancam kehidupan akhirat. Selanjutnya peran Kampus dalam menciptakan
mahasiswa yang mampu mengemban tugas sebagaimana yang telah penulis tuliskan
diatas adalah agar kedepannya melakukan
kegiatan PKR (Pendidikan Karakter Religius) dengan memisahkan
kegiaannya berdasarkan agama yang dianut, atau dengan kata lain, tiap-tiap golongan agama menyelenggarakan kegiatan yang demikian secara masing-masing. Kemudian dilanjutkan dengan
kegiatan-kegiatan tarbiyah secara kontinu minimal sekali dalam seminggu agar
hidup bermahasiswa tetap dibarengi dengan benteng religiusitas.
Imam
Al-Gazali pernah mengatakan bahwa Penyakit
itu ada 2, yakni penyakit dzhahir dan bathin. Namun yang menjadi
masalahnya, manusia saat ini lebih gelisah dan takut ketika terkena penyakit
dzhahir dan ketika diserang penyakit bathin mereka justru santai saja tanpa
beban tanpa mengkhawatirkan bahwa ada ancaman yang dapat merusak akhiratnya.
Perlu kita ketahui bahwa penyakit dzhahir itu hanya dapat merusak dunia.
Sedangkan penyakit bathin merusak dunia dan menghancurkan akhirat. Lantas
kenapa kita masih santai terhadap masalah-masalah yang membutuhkan pembelajaran
dalam tentang agama ?
Untuk
menyelesaikan masalah ini, maka penulis dapat menyarankan sebuah solusi agar
mahasiswa-mahasiswa saat ini perlu dibekali banyak dengan ilmu-ilmu
tentang agama. Selanjutnya masyarakat dan pemerintah juga harus senantiasa
mengadakan ta’lim dengan membahas tentang hal-hal yang bernuansa religius
minimal sekali seminggu yang selanjutnya mahasiswa merealisasikan perannya
sebagai agent of change dan agent of social control dengan
mengadakan kegiatan-kegiatan sosial yang membahas tentang hal-hal bernuansa
agama kepada masyarakat agar negara ini mampu melahirkan manusia-manusia yang
cerdas dan religius, sehingga siapapun itu dalam bertindak selalu dibarengi
dengan taqwa dan merekapun takut berbuat tindakan-tindakan yang melanggar
agama.
Dengan
demikian, penulis dapat berkesimpulan bahwa ilmu yang kita miliki tidak akan
ada manfaatnya ketika tidak dibarengi oleh implementasi dari nilai-nilai
religius. Karena ilmu ini hanya merupakan sebuah isi yang harus dilindungi oleh
sebuah benteng yang kuat, yakni nilai-nilai religius yang di tekadkan dalam
hati dan senantiasa di implementasikan dengan baik dalam kehidupan. Selain itu
mahasiswa juga harus mampu mengawali pegerakan ini dari dirinya dan kemudian
melanjutkannya pada masyarakat dan menyampaikan aspirasi-aspirasi rakyat kepada
pemerintah dengan tujuan utama penanaman nilai-nilai religius. Oleh sebab itu
penulis mengajak kita semua utamanya mahasiswa untuk senantiasa
memperbanyak dulu wawasan tentang agama dan kemudian ditanamkan dalam hati
dengan kemampuan pengimplementasian yang baik dalam kehidupan sehari-hari dan
barulah dibarengi dengan kemampuan memperbanyak wawasan ilmu pengetahuan, dan
dilanjutkan dengan mengembang amanah untuk menjadi penghubung dan pencurah yang
baik yang mampu menyebarkan virus-virus religius kepada golongan Poletar dan Borjuis. Sehingga Negara ini dapat menjadi Negara beragama yang
mampu melahirkan manusia-manusia yang religius, cerdas, dan berguna bagi bangsa
dan negara yang pergerakannya diawali oleh para mahasiswa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar