Senin, 25 November 2013

Mahasiswa Sebagai Penggerak Menuju Masyarakat yang Religius

Oleh : Muh. Afdal Yanuar (B11113038)
Religius ? Apa religius itu ? Pentingkah mahasiswa menjadi religius ? Bagaimana seorang mahasiswa menjadi manusia yang religius ? Kenapa harus religius ?
Itulah pertanyaan-pertanyaan yang akan terus muncul ketika mahasiswa-mahasiswa dihadapkan pada hal religius.
Sebagaimana yang telah diketahui bahwa mahasiswa memiliki peran sebagai agent of change dan agent of social control yang akan terus melekat pada dirinya selama masih berstatus mahasiswa demi menciptakan sebuah sinergi yang baik dan kuat antara Strata Borjuis (Pemerintah dan kalangan birokrat) dengan Proletar (Kalangan menengah ke bawah). Mahasiswa yang baik itu adalah ia yang berjiwa RAKUS (Rasional, Analitik, Kritis, Universal, dan Sistematis). Lantas bagaimana  kaitannya dengan Religius ? Ketika mahasiswa mampu menjadikan karakter RAKUS itu pada diri mereka untuk menanamkan jiwa religius pada dirinya dan kemudian merebahkan virus-virus kereligiusannya itu, maka disinilah akan melahirkan sebuah komitmen pada mahasiswa untuk menjadi manusia yang memiliki kecerdasan yang tidak akan disalahgunakan. Artinya apapun tindakan yang ia lakukan pasti sesuai dengan syariat agama dan dapat bermanfaat serta diterima oleh orang banyak. Tidak asing lagi ditelinga kita, dimana sering kita mendengar perkataan “Ilmu tanpa agama adalah buta, dan agama tanpa ilmu adalah pincang”. Maka sebesar apapun reputasi dari seorang mahasiswa ketika mereka tidak membarengi esensi dari ilmunya itu dengan nilai-nilai keagamaan, maka itu tidak akan memberikan sebuah mudharat (manfaat) bagi dirinya sendiri, terlebih kepada kalangan orang banyak utamanya dalam kehiupan dalam kampus yang penuh dengan dinamika. Kita semua pasti mencita-citakan negara ini mampu menjadi negara yang adil, makmur, dan sejahtera serta melihat semua generasi penerus mampu menjadi generasi pelurus dari bangsa tercinta ini yang utamanya pergerakan yang awalnya dilakukan oleh Mahasiswa. Cita-cita tersebut bukanlah sesuatu yang mudah untuk  dilakukan. Sangat dibutuhkan manusia-manusia utamanya mahasiswa-mahasiswa sebagai generasi penerus yang paling diharapkan yang senantiasa mendasari perbuatannya dengan iman dan taqwa tanpa mengenal ruang dan waktu. Namun nyatanya, kita hanya dapat melihat negara yang tercinta ini terus menangis dengan jeritan tangis, akibat dari tingkah yang amis dari aktifis-aktifis yang dirasuki oleh jiwa anarkis. Artinya, negeri kita ini sedang mengalami sebuah kehancuran akibat dari orang-orang yang intelek dan sering berkicau dengan menggunakan daya inteleknya itu, ternyata berkhianat dan senantiasa menyalahgunakan ilmunya untuk menghancurkan orang-orang yang berada dibawah stratanya. Sehingga perlu kita pertegas bahwa dalam kehidupan ini perlu ada seorang aktifis mahasiswa yang mampu menggerakkan segenap mahasiswa menjadi mahasiswa yang religius dan menerjunkan kepada masyarakat akan pentingnya hidup ini dengan dibentengi oleh nilai-nlai religius. Sehingga akan melahirkan sebuah interaksi yang besar antara Lapisan Borjuis dengan Proletar di kampus  demi menciptakan masyarakat yang religius sebelum melakukan pergerakannya lebih luas pada masyarakat.
Negara ini sudah memiliki sangat banyak orang pintar, namun mengapa masih saja terpuruk ? Negara ini sudah sangat banyak KH/ulama’/ustadz yang hebat, tapi mengapa jiwa-jiwa keislaman dari para muslim di Indonesia mengalami kelunturan ? Lantas bagaimana kampus menciptakan orang-orang yang religius ?
Terhadap 3 pertanyaan tersebut tidak lain jawabannya adalah karena banyak orang pintar di negara ini, namun substansi ilmunya itu tidak dibumbui dengan nilai-nilai keagamaan. Kemudian banyak pula orang agamis di negara ini, namun banyak masyarakat yang kesadaran tentang akhiratnya sifatnya statis dan apabila dihadapkan kepada hal-hal yang dilarang agama, mereka kembali terjerumus kesana. Disinilah sebenarnya dibutuhkan peran mahasiswa sebagai Agent of change dan agent of social control. Perubahan itu dapat dilakukan ketika mahasiswa senantiasa mampu melakukan tindakan dilapangan untuk menanamkan jiwa-jiwa kerohanian pada masyarakat banyak. Berbicara tentang mahasiswa mengadakan bazar, sosialisasi ke masyarakat, seminar, dan bahkan sampai demonstrasi yang berbicara tentang kajian ilmu dunia adalah sebuah hal yang biasa. Tapi kita sangat jarang mendengarkan adanya mahasiswa yang mampu mengadakan kegiatan-kegiatan tersebut yang senantiasa membahas tentang kajian-kajian agama. Misalnya saja, mahasiswa sangat sering mendemonstrasi kepada kalangan borjuis (pemerintah dan birokrat) tentang kinerja yang tidak memuskan bagi masyarakat, tapi kenapa kita tidak pernah melihat mahasiswa berdemonstrasi agar senantiasa para pejabat-pejabat itu diberikan pendidikan tentang nilai-nilai agama agar mereka takut melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar syariat agama ? Inilah sebuah problematika dunia ini. Kita lebih cinta dunia daripada akhirat. Kita lebih suka menyadarkan orang lain tentang segala hal yang membahayakan dunia, bukan menyadarkan mereka tentang hal-hal yang mengancam kehidupan akhirat. Selanjutnya peran Kampus dalam menciptakan mahasiswa yang mampu mengemban tugas sebagaimana yang telah penulis tuliskan diatas adalah agar kedepannya  melakukan kegiatan PKR (Pendidikan Karakter Religius) dengan memisahkan kegiaannya berdasarkan agama yang dianut, atau dengan kata lain, tiap-tiap golongan agama menyelenggarakan kegiatan yang demikian secara masing-masing. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan tarbiyah secara kontinu minimal sekali dalam seminggu agar hidup bermahasiswa tetap dibarengi dengan benteng religiusitas.
Imam Al-Gazali pernah mengatakan bahwa Penyakit itu ada 2, yakni penyakit dzhahir dan bathin. Namun yang menjadi masalahnya, manusia saat ini lebih gelisah dan takut ketika terkena penyakit dzhahir dan ketika diserang penyakit bathin mereka justru santai saja tanpa beban tanpa mengkhawatirkan bahwa ada ancaman yang dapat merusak akhiratnya. Perlu kita ketahui bahwa penyakit dzhahir itu hanya dapat merusak dunia. Sedangkan penyakit bathin merusak dunia dan menghancurkan akhirat. Lantas kenapa kita masih santai terhadap masalah-masalah yang membutuhkan pembelajaran dalam tentang agama ?
Untuk menyelesaikan masalah ini, maka penulis dapat menyarankan sebuah solusi agar mahasiswa-mahasiswa saat ini perlu dibekali banyak dengan ilmu-ilmu tentang agama. Selanjutnya masyarakat dan pemerintah juga harus senantiasa mengadakan ta’lim dengan membahas tentang hal-hal yang bernuansa religius minimal sekali seminggu yang selanjutnya mahasiswa merealisasikan perannya sebagai agent of change dan agent of social control dengan mengadakan kegiatan-kegiatan sosial yang membahas tentang hal-hal bernuansa agama kepada masyarakat agar negara ini mampu melahirkan manusia-manusia yang cerdas dan religius, sehingga siapapun itu dalam bertindak selalu dibarengi dengan taqwa dan merekapun takut berbuat tindakan-tindakan yang melanggar agama.
Dengan demikian, penulis dapat berkesimpulan bahwa ilmu yang kita miliki tidak akan ada manfaatnya ketika tidak dibarengi oleh implementasi dari nilai-nilai religius. Karena ilmu ini hanya merupakan sebuah isi yang harus dilindungi oleh sebuah benteng yang kuat, yakni nilai-nilai religius yang di tekadkan dalam hati dan senantiasa di implementasikan dengan baik dalam kehidupan. Selain itu mahasiswa juga harus mampu mengawali pegerakan ini dari dirinya dan kemudian melanjutkannya pada masyarakat dan menyampaikan aspirasi-aspirasi rakyat kepada pemerintah dengan tujuan utama penanaman nilai-nilai religius. Oleh sebab itu penulis mengajak kita semua utamanya mahasiswa untuk senantiasa memperbanyak dulu wawasan tentang agama dan kemudian ditanamkan dalam hati dengan kemampuan pengimplementasian yang baik dalam kehidupan sehari-hari dan barulah dibarengi dengan kemampuan memperbanyak wawasan ilmu pengetahuan, dan dilanjutkan dengan mengembang amanah untuk menjadi penghubung dan pencurah yang baik yang mampu menyebarkan virus-virus religius kepada golongan Poletar dan Borjuis. Sehingga Negara ini dapat menjadi Negara beragama yang mampu melahirkan manusia-manusia yang religius, cerdas, dan berguna bagi bangsa dan negara yang pergerakannya diawali oleh para mahasiswa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar